Sekarang:

… dan kemarin, dan esok…

Om genit jalang, apa yang kau cari?

Mungkin aku hanya menjalani naluri primitif sambil manfaatkan kelonggaran tata nilai yang untungkan lelaki. Setubuhi banyak wanita daripada hanya masturbasi sendiri.

Tiada yang salah dengan nafsuku karena aku yakin lelaki lain juga punya gejolak nafsu seperti diriku. Hanya saja mereka bisa mengontrol kontol lebih baik. Tapi aku tak tahu bagaimana mereka kendalikan hasrat jalangnya. Apakah direndam dalam otak lalu disalurkan kepada pacar/tunangan/istri sambil bayangkan wanita lain? Alangkah jahatnya.

Jenderal yang lolos dari maut medan perang banggakan medali dan semua tanda jasa di baju upacarannya. Prajurit suku ganas banggakan jumlah tengkorak yang telah dia kayau. Dorongan macam itukah yang ada dalam diriku, merasa telah mencicipi banyak wanita? Alangkah primitifnya.

Ketika hari-hari teduh tiba seperti sekarang, dimana kecantikan dan keindahan wanita aku apresiasi tanpa gejolak birahi, aku dapat merenung lebih banyak.

Hari-hari manakala aku hanya ereksi saat tidur dan bangun pagi (itu adalah bukti aku belum impoten) telah mengantarkanku pada sebuah pencarian dan pertanyaan. Tentang seks, tentang wanita, tentang kehidupan.

Inilah saat aku merasa jadi anak kecil. Hanya rindukan tetek untuk menyusu dan benamkan wajah. Rindukan ketiak cantik untuk dapatkan kedamaian dalam tidur. Ingin berbantal selangkangan berjembut lembut lalu tertidur pulas tapi bukan setelah lelah bersenggama. Dulu itu kualami dengan wanita cantik baik hati tapi terjadi setelah aku lelah melayaninya. Tertidur dalam selangkangan halus mulus berjembut lembut tapi lebat.

Hanya dua wanita yang bisa berikan itu semua. Pertama adalah Wanita cantik baik hati itu, tapi ahhhh dia pasti sudah nenek-nenek peyot, aku tak tertarik sama sekali kecuali jarum jam sejarah bisa dimundurkan lagi, aku jadi di kecil dalam buaian wanita dewasa.

Wanita kedua adalah kamu. Ya, kamu. Ternyata aku sering merindukanmu tanpa nafsu. Terakhir kita jalani tiga malam bersama, tapi frekuensi setubuh kita berkurang. Kamu juga bilang tak senafsu dulu, karena sekarang hanya inginkan kebersamaan.

Tapi kita tak pernah bilang cinta. Tak pernah ada komitmen. Bincang tentang perkawinan hanya menjadi jokes berdua.

2 Komentar»

  zeto wrote @

trus yg ketiganya sapa dong????

  bergolo ijo wrote @

yang ketiga? Ya…..Ayam lo kali (lo punya ayam wanita eh betina ga?) nah dandani ayammu sebelum di nges ama si Om hehheheh.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: