Sekarang:

… dan kemarin, dan esok…

Helicopter

fiona tidur pulas

Sabtu pagi yang masih gelap. Aneh sekali. Masih ada kokok ayam dari kampung di belakang hotel. Padahal ini di tengah kota.

Kamu mulai pulas, padahal baru 15 menit rebahkan badan setelah mandi. Kamu call aku ada di mana. Kamu bilang malas pulang ke kos. Aku lagi di hotel. Jujur kubilang barusan ada party, ada cewe yang aku ikut untuk sama-sama tunjukkan rasa suka. Lalu kamu check in.

Sejam kemudian kamu datang. Kebetulan. Kusambut dirimu dengan teh hangat tanpa gula racikan kamar hotel selagi kamu ke kamar mandi (tapi tidak mandi karena kamu sudah mandi di hotel lainūüėČ ). Lalu kita ngobrol sebentar.

Aku lelah. Nafsuku sudah habis. Kamu juga. Entah habis melayani siapa. Bukan urusanku.

Bukan sekali ini kamu singgah lalu tidur bersama dan hanya tidur. Tanpa bercinta. Aku menyukaimu. Kamu menyukaiku.

Tapi ahhh… sesekali terjadi. Pagi hari selagi aku lelap kamu sudah bangun. Kamu lakukan kenakalan seperti umumnya wanita setiap melihat lelaki ereksi saat tidur di pagi hari.

Dalam sisa kantuk akhirnya kurasakan jilatan dan kuluman. Antara sadar dan tidak kurasakan jemari lentik memegang tiang bendera, gesekkan ke permukaan lembab sampai bunyi kelecek-kelecek. Dalam posisi duduk tanpa menindih, lubang merekah menagih jatah tanpa hitungan bisnis. Ini soal lelaki dan perempuan.

Itu juga yang terjadi siangnya saat aku bangun Sabtu itu. Dalam kantuk, ereksi pagi, rambatan nafsu… akal warasku ingat sesuatu. Aku sudah tak punya kondom. Kamu juga.

Kamu yakinkah aku aman saja. Selama ini kamu selalu pakai kondom dengan siapapun termasuk aku. Tapi kamu yakin aku bersih. Siang itu aku bingung. Mau cari kondom di mana?

Tiang bendera menahan atap dunia. Ada helicopter berputar. Pasak tak menembus awan. Kondom, oh kondom! Di manakah dirimu?

Jangan pikirkan kondom, katamu. Seumur-umur bekerja kamu selalu pakai kondom bahkan saat oral dengan tamu.

Helicopter bergerak pelan. Awan basah sudah berbah jadi mendung yang siapkan hujan deras. Tiang bendera mulai rasakan gerimis basahi si tegak. Leleran dan tetesan dari atas.

Kondom! Aku butuh kondom! Masih ingat aku!

Tapi sensasi helicopter itu. Ayunan payudara bulat berputing merah keras itu. Dan… uh nakal! Nakal! Helicopter perlambat tempo. Masih hovering. Kamu jilati ketiakmu basahmu sendiri.

Helicopter diam. Mesinnya tak mati. Dia mendarat. Tiang bendera melesak naik. Pol mencapai lapis teratas langit, bertemu pelangi di ujung lorong.

Helicopter bergerak perlahan, lalu cepat, makin cepat, perlahan lagi. Berulang. Berulang. Sampai akhirnya helicopter meledak. Jeritanmu tak tertahankan. Tiang bendera sudah berubah jadi peluncur. Langsung lontarkan roket yang cepat meledak setelah bertemu titik panas.

Untunglah pemeriksaan medis pastikan aku aman. Aku takut kena penyakit. “Kakak sih… Nggak pernah percaya… Sekarang udah yakin khan kalo aku bersih?” katamu waktu kutelefon.

1 Komentar»

  munggur wrote @

jangan alpa berbekal helm lagi…
bawa ‘payung’ sebelum ‘turun hujan’


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: