Sekarang:

… dan kemarin, dan esok…

Muda, panas, tak pikir panjang

badai stella sore itu

Aku hampir 18, katamu. Sudah dewasa, katamu. Let’s do it for my first time, pintamu.

Awan mendung bercampur red wine. Dewa gerah gundah tak ingin di bawah sana ada petaka. Di kamar hotel itu tanktop tersampir di TV. Bra 34a tergeletak di carpet. Thong lembab di sandaran sofa.

Gadis belia terbakar oleh hasratnya sendiri. Hormonnya memicu aroma tubuh yang membakar bajingan tua buaya darat. Bau ketiak perawan yang telah tinggalkan masa kencur. Bunyi lembut kontraksi otot pinggul betina muda. Lelehan bening hasrat yang meminta dihirup.

Aku terseret dalam pusaran nafsu. Egoku ditunggangi iblis yang katakan kapan lagi mencicipi perawan putih segar padat. Wakil diriku mengibarkan bendera ketika aku terlentang. Desah napasmu dan tetesan peluhmu tak terkalahkan oleh AC kamar.

Kamu di atas. Nalurimu dan pengetahuanmu yang kamu petik dari DVD maupun clip di internet membimbingmu. Hanya gesekan pelan batang pohon menyapa helai-helai ranting dan daun cemara, seperti biasanya.

Tapi kemudian menggila. Kurasakan katup luar yang licin bergesek kencang dengan piston. Wajahmu memerah. Kamu sangat ingin. Aku sebetulnya juga.

Kuminta kau duduk di atas wajahku agar dirimu yang sedang terbakar dapatkan pelepasan dari mulut, lidah dan hidungku seperti biasanya agar air bah segera menjebol bendungan betinamu. Tapi kali itu kamu menolak. Kamu ingin. Demi cinta. Demi pendewasaan.

Jemari kananmu meraih tiang bendera. Posisimu seperti duduk, aku tetap terlentang. Seperti biasanya, ujung tiang kamu bimbing menyapa mega dan pelangi. Ini permainan berbahaya untuk setiap perawan. Lepas kendali sedikit saja maka pasak akan menyelinap ke lorong sempit licin yang mendamba. Jika hymen itu lunak tipis maka tembusan pelan bertahap berulang tanpa sentakan memaksa akan tersibak, menyambut pemiliknya ke dunia dewasa untuk pertama kalinya.

Napasmu memburu. Terus saja kau bisikkan cinta, cinta, cinta, dan cinta di tengah napasmu yang memburu. Gerbang kecilmu sudah membuka agar keretaku menjemputmu pelan ke alam betina dewasa. Katamu menurut buku panduan sedang tidak subur. Oh gadis belia polos ini!

Menegangkan. Langit mendung mulai hantarkan petir dan siramkan hujan anggur merah. Gadis itu dewasa di naluri dan hasrat betinanya tapi belum matang di akal dan hati.

Kali itu untuk sekian kalinya aku bisa menahan diri. Aku tak ingin itu terjadi.

Kelembutanku untuk menurunkan voltasemu, memanjakan selayaknya terhadap anak kecil, memapahmu ke kamar mandi, memandikanmu, lalu menuntaskan apa yang jadi maumu dengan cara lain yang aman akhirnya meredakan badai.

Sore itu langit tak terkoyak. Senja langit kembali bersih. Petang aku ngedrop kamu di depan minimarket, seperti biasanya. Lalu kamu akan berjalan ke blok lain selama 8 menit. Mangkal sebentar di pusat aktivitas muda milik yayasan itu, bertemu pengurus dan temanmu. Lalu kamu akan memanggil sopirmu untuk menjemput. Atau akan mengabari rumah bahwa kamu bakal naik ojek. Dunia seolah tak berubah. Tak ada yang tahu dirimu menyimpan bara kebingungan gadis muda yang dimabuk asmara naif terhadap bangsat tua buaya muara.

Oh Stella!

2 Komentar»

  Foto mencumbu susu itu « Sekarang: wrote @

[…] Oh Stella! […]

  Adi wrote @

uhh…pengen…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: